• News

    Senin, 26 September 2016

    Sejarah Lahirnya ISIS

    Sejarah Lahirnya ISIS

    Islamic State of Iraq and Syria atau yang dikenal dengan singkatan arapnya Da’ish atau Daesh merupakan sebuah kekhalifahan ekstrimis jihadis Sunni yang berbasis di Iraq dan Syria, di Timur Tengah. Sejarah lahirnya ISIS dimulai pada tahun 1999 dimana saat itu kelompok ini masih bernama Jama’at al-Tawhid wal-Jihad dan pendahulu dari Tanzim Qaidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn yang biasa dikenal sebagai Al-Qaeda. Pada tahun 2006, kelompok ini bergabung dengan kelompok serupa untuk membentuk Mujahideen Shura Council yang berkonsolidasi lebih jauh untuk membentuk Islamic State of Iraq (ISI). Pada masa puncaknya, ISI mendapat perhatian penuh di Al Anbar, Nineveh, Kirkuk, dan area-area lainnya. Pada tahun 2008, banyak kelompok Sunni Iraq yang mengkritik cara mereka yang kasar, membuat popularitasnya menciut.

    Tumbuhnya ISIS
    Sejarah lahirnya ISIS bermula dari Jama’at al-Tawhid wal-Jihad, sebuah pasukan milisi yang dipimpin dan didirikan oleh seorang berkebangsaan Jordania, Abu Musab al-Zarqawi. Menyusul invasi Iraq pada tahun 2003, Jama’at al-Tawhid wal-Jihad berhasil menjadi terkenal pada era-era awal kekacauan di Iraq bukan hanya dengan menyerang tentara koalisi, tapi juga dengan serangan bunuh diri yang berkali-kali dilakukan yang tidak jarang menjadikan sipil sebagai target mereka. Hal lain yang membuat nama mereka dikenal dunia adalah pemenggalan tawanan, salah satunya Nick Berg yang videonya disebarkan kemana-mana.
    Kelompok pemberontak arahan al-Zarqawi ini menjadi semakin besar dan mulai menarik petarung-petarung baru. Puncaknya adalah pada bulan Oktober tahun 2004, dimana kelompok ini secara resmi memutuskan untuk bergabung dengan jaringan al-Qaeda miliki Osama bin Laden dan mengganti namanya menjadi Tanzim Qaidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn yang juga dikenal sebagai Al-Qaeda in Iraq (AQI). Semenjak kejadian ini, serangan AQI terhadap masyarakat sipil dan pemerintahan Iraq, serta pasukan keamanan mulai meningkat tajam. Pada surat yang ditujukan untuk al-Zarqawi pada Juli 2005, pemimpin deputi al-Qaeda saat itu, Ayman al-Zawahiri menuliskan sebuah rencana empat tingkat yang akan dilakukan untuk memperluas perang Iraq yang di dalamnya termasuk menendang keluar tentara Amerika dari Iraq, membangun sebuah kekhalifahan, memperluas konflik ini kepada tetangga Iraq yang sekuler, dan ikut serta dalam konflik Arab dan Israel.
    Sejarah lahirnya ISIS kembali mencapai titik baru saat Tanzim Qaidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn bergabung dengan beberapa kelompok serupa dari Iraq pada 15 Oktober 2006 dam mengubah nama mereka menjadi Dawlat al-Iraq al-Islamiyyah atau Islamic State of Iraq (ISI). Studi dari badan intelijen Amerika pada awal tahun 2007 menyatakan bahwa ISI berniat untuk mengambil alih kekuasaan di area pusat dan barat negara tersebut dan mengubahnya menjadi negara Islam Sunni. Kelompok baru ini semakin meningkat kekuatannya dan mulai mendapat banyak pengakuan di berbagai tempat seperti Al Anbar hingga Baghdad. Mereka juga melakukan klaim Baqubah sebagai ibukota.
    Pada tahun 2007, kelompok ini melakukan sebuah serangan yang amat kejam dan menyeluruh terhadap masyarakat Iraq. Serangan ini melukai image yang selama ini mereka coba buat, dan membuat kelompok ini kehilangan banyak pendukung. Bukan hanya kehilangan pendukung, masyarakat sekitar juga mulai mengisolasi orang-orang yang mereka kenal sebagai anggota ISI. Beberapa militan Sunni yang dulu tergabung dalam kelompok ini juga mulai memihak kepada pasukan Amerika, dimana pasukan Amerika kemudian memberi suplai lebih banyak dan dengan bantuan orang-orang baru demi menjalankan operasi yang menyerang grup ini langsung.
    Titik tertinggi dalam sejarah lahirnya ISIS dimulai pada bulan Maret 2011 dimana terjadi proses di Syria terhadap pemerintahan yang tengah berlangsung dan dipimpin oleh Bashar al-Assad. Di bulan tersebut, sering terjadi kekerasan antara para demonstran dengan tenaga pengamanan yang kemudian berlanjut pada militerisasi konflik terkait. Pada April 2013, al-Baghdadi merilis sebuah statement audio dimana isinya tentang pendirian dan penyokongan finansial barisan al-Nusra oleh ISI dan bahwa kedua kelompok tadi bergabung membentuk ad-Dawlah al-Islamiyah fil Iraq wa ash-Sham. Al-Jawlani yang saat itu menjadi pemimpin al-Nusra menerbitkan sebuah statement yang mengatakan bahwa ia menolak penggabungan tersebut dan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu. Pada Juni 2013, Al Jazeera melaporkan bahwa mereka menerima sebuah surat dari pemimpin al-Qaeda, yaitu Ayman al-Zawahiri yang juga menolak penggabungan tersebut. Di bulan yang sama, al-Baghdadi kembali merilis sebuah pesan audio menolak pemerintahan al-Zawahiri dan mendeklarasikan bahwa penggabungan akan tetap terjadi. Pada bulan Oktober 2013, al-Zawahiri mulai menjadi keras dan memerintahkan untuk pembubaran ISIS serta menjadikan al-Nusra memipin usaha jihad di Syria. Al-Baghdadi tidak menyerah, dan malah mempertanyakan kepemimpinan al-Zawahiri dengan basis yuriprudensi Islam. Akhirnya, pada Februari 2014 al-Qaeda memutuskan seluruh hubungan mereka dengan ISIS.
    Sejarah lahirnya ISIS selesai tanpa mengakhiri gerakan jihad ini karena pada 29 Juni, ISIS melepaskan kata-kata “Iraq dan as-Sham” pada nama mereka dan mulai memanggil diri mereka sebagai Islamic State (IS) yang secara bersamaan memproklamirkan diri mereka sendiri sebagai kekhalifahan dan mengangkat Abu Bakar al-Baghdadi sebagai khalifah mereka. Deklarasi kekhalifahan ini menjadi bahan kritik pedas dari berbagai petinggi Islam. Para analis juga menilai pelepasan kata “Iraq dan as-Sham” merupakan sebuah cara bagi IS untuk melebarkan lingkup kelompok ini. Analis teroris, Laith Alkhouri juga menyimpulkan bahwa setelah menundukkan banyak area di Syria dan Iraq, IS merasa bahwa ini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk mengambil alih kontrol akan pergerakan jihadis dalam skala global.


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Fashion

    Beauty

    Travel