• News

    Senin, 26 September 2016

    Sejarah Pertempuran Ambarawa – Magelang

    Sejarah Pertempuran Ambarawa – Magelang

    Sejarah pertempuran Ambarawa – Magelang merupakan salah satu bagian dari revolusi sosial yang berlatar waktu setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dan pengakuan Belanda akan kemerdekaan Indonesia di akhir tahun 1949. Sebenarnya, gerakan revolusi sosial ini sendiri adalah bagian dari gerakan kemerdekaan Indonesia yang dimulai sejak Mei 1908. Perjuangan pada era revolusi sosial ini terjadi selama 4 tahun dan melibatkan konflik bersenjata yang sporadis namun luar biasa berdarah, pergolakan politik dan komunal, serta dua intervensi major diplomatis dari diplomat internasional. Meskipun pada saat itu Belanda mampu mengontrol kota pada hati pihak-pihak republik yang berada di Jawa dan Sumatra, namun mereka tidak bisa mengontrol wilayah pedesaan.
    Sejarah Awal Pertempuran Ambarawa di Magelang
    Pertempuran Ambarawa – Magelang tidak akan terjadi jika sebelumnya tidak ada gerakan-gerakan nasionalis yang memaksa terpisahnya Indonesia dari cengkraman pemerintahan belanda di tahun-tahun awal abad ke-20. Revolusi dan perang tadi juga tidak lepas dari pengaruh Jepang yang mampu mengusir para penjajah Belanda dari Indonesia dalam waktu beberapa bulan, meskipun secara tidak langsung, ini semua berkat Jerman yang telah berhasil mendesak Belanda untuk mengeluarkan seluruh kemampuan perangnya saat Jerman mulai memasuki teritorinya.
    Petinggi-petinggi Jepang yang ada di Indonesia pada saat itu mulai menyebarkan sentimen-sentimen nasional. Meskipun awalnya ini semua hanya taktik politik yang dilakukan Jepang untuk mengambil hati masyarakat Indonesia, sokongan ini ternyata mulai membentuk badan-badan baru yang membantu kemerdekaan Indonesia nantinya, juga dengan mengangkat pemimpin-pemimpin yang menjanjikan seperti Soekarno. Selain itu, Jepang juga ingin membuktikan kebohongan bahwa mereka memihak Indonesia dengan menghancurkan dan mengganti sistem ekonomi, adminsitrasi, dan infrastruktur politik yang dibangun oleh Belanda dengan milik mereka sendiri.
    Pada 6 Agustus 1945, Jepang menerima kabar bahwa salah satu kota besar mereka yang bernama Hiroshima menjadi target pemboman nuklir oleh orang-orang Amerika Serikat. Hal ini membuat moral para pasukan Jepang turun, dan belum sempat mereka membangun percaya diri mereka, pada tanggal 9 Agustus muncul sebuah berita tentang dibomnya Nagasaki dengan bom yang sangat berat bernama Fat Man untuk Nagaski dan Little Boy untuk Hiroshima. Esoknya, pada tanggal 15 Agustus, tepat beberapa hari setelah pengeboman Nagasaki dan deklarasi perang oleh Soviet, Jepang akhirnya mengaku kalah pada sekutu. Kekalahan Jepang pada masa-masa akhir Perang Dunia II ini membuat Belanda yang selalu siaga mengawasi Indonesia memiliki pemikiran untuk kembali menduduki Indonesia dan mengucapkan pada Jepang untuk “menjaga aturan dan hukum” di sana tanpa tahu bahwa pilihan mereka akan mencatatkan sejarah pertempuran Ambarawa – Magelang.
    Setelah sebelumnya Jepang membuat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk persiapan kemerdekaan, mereka ditekan oleh pemuda radikal bahwa mereka ingin Soekarno menyatakan deklarasi jauh lebih cepat, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini bertepatan dengan dua hari menyerahnya kerajaan Jepang pada sekutu, dan setelah debat panjang akhirnya mereka setuju. Di hari yang sama juga, KNIP mengangkat Soekarno menjadi presiden dan Hatta sebagai wakilnya.
    Meskipun sebelumnya Belanda sudah menargetkan untuk kembali menduduki Indonesia, hal itu digagalkan dengan berkurang drastisnya kekuatan tempur mereka, dan baru pada tahun 1946 mereka cukup kuat. Selama masa penyembuhan kekuatan tempur ini, Jepang dipercaya oleh Belanda sepagai pengawas Indonesia dan karena tentara Amerika terlalu sibuk dengan pulau di Jepang, Nusantara diserahkan kepada laksamana Inggris, Louse Mountbatten. Ketika pihak Inggris diberikan perintah untuk mengembalikan kedamaian dan pemerintahan sipil di Jawa, pasukan Belanda melihat kesempatan ini sebagai administrasi koloni dan bisa terus mengeruk kekayaan Nusantara tanpa harus memberikan apapun.
    Bibit-bibit kerusuhan sudah mulai diinisiasikan pada bulan Oktober 1945, yang meskipun perjanjiannya adalah pihak Jepang harus pulang, mereka abaikan dan mereka merasa mereka masih pantas untuk memegang kondisi Indonesia yang awalnya ingin mereka jadikan negara boneka ini. Di Pekalongan, Jawa Tengah, polisi militer Jepang berhasil membunuh salah satu anggota barisan pemuda pada tanggal 3 Oktober. Di Bandung, hal yang sama juga tejadi antara tentara Jepang melawan barisan pemuda. Kemenangan dan keberhasilan pendudukan Jepang di Bandung tidak berarti apa-apa, karena setelahnya mereka memberikan hak akan kota tersebut ke Inggris. Perang paling mematikan melawan Jepang baru dimulai di Semarang pada tanggal 14 Oktober. Pada saat itu, tentara republik Indonesia dipaksa mundur dan sebagai gantinya mereka membunuh 130 hingga 300 tentara Jepang yang menjadi tawanan mereka. Kejadian ini menewaskan 500 tentara Jepang dan 2000 tentara Indonesia. Hampir saja Jepang menguasai kota itu, namun kemudian tentara Inggris datang dan memulangkan tentara dan masyarakat sipil Jepang ke negara mereka sendiri.
    Perang Ambarawa dimulai ketika NICA telah tiba di Ambarawa dan bersiap-siap untuk membebaskan tawanan belanda, dimana kemudian tawanan-tawanan tadi malah diberikan persenjataan dan membuat warga Indonesia muak luar biasa. Awal perang terjadi di Magelang dimana tentara sekutu berusaha keras untuk mencabuti persenjataan tentara keamanan rakyat dan menyulut kekacauan.
    Sejarah pertempuran Ambarawa – Magelang sendiri baru dimulai ketika tanggal jatuh tepat pada 11 Desember 1945. Pada saat itu, kolonel Soedirman mengadakan rapat yang diikuti oleh para komandan sektor TKR. Penyerangan pertama terjadi pada 12 Desember pukul 4.30 pagi dan serangan pembukaan dimulai dari tembakan mitraliur, dan berlanjut oleh penembak-penembak karaben. Hanya butuh waktu satu setengah jam bagi pasukan TKR untuk menundukkan pasukan bersenjata pemerintah Belanda. Peperangan akhirnya selesai pada tanggal 15 Desember 1945, perang ini berakhir dengan kemenangan Indonesia berkat taktik supit urang (rangkap dari kedua sisi) sehingga musuh kehabisan suplai.

     

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Fashion

    Beauty

    Travel